Jumat, 15 Juni 2012

contoh POA


Plan Of Action (POA)
60,8% masyarakat RW V Kelurahan Lette Rumahnya tidak
 Bebas Rokok pada Tahun 2010

Mahasiswa PBL 2 Kelas kerjasama FKM UMI

 I.    Latar Belakang Masalah
Merokok merupakan salah satu kebiasaan yang sering ditemui dlam kehidupan sehari-hari. Permasalahan rokok merupakan permasalahan yang paling banyak ditemukan diwilayah pemukiman Kelurahan Lette khususnya di RW V. Dari data PBL I  ditemukan Rumah yang tidak Bebas Rokok sebanyak 138 KK (60,8 %). Hal ini disebabkan oleh kurangnya pengetahuan masyarakat tentang bahaya rokok, sedangkan faktor penunjang antara lain karena ketagihan merokok, gengsi bila tidak merokok.
Masalah ini sangat penting diatasi,  namun tidak mudah untuk menurunkan terlebih menghilangkannya. Karena dampak yang ditimbulkan dapat mengganggu kesehatan diri sendiri maupun orang di sekitarnya.
Oleh karena itu, melalui kegiatan penyuluhan tentang bahaya rokok dan pembagian brosur kepada masyarakat di harapkan dapat menurunkan jumlah rumah bebas rokok di wilayah RW V kelurahan Lette.
II.    Tujuan
Apakah dengan melakukan penyuluhan tentang bahaya rokok dan pembagian brosur yang dilakukan Mahasiswa PBL II di Wilayah RW V bersama masyarakat dapat menurunkan jumlah rumah bebas rokok dari 60,8 % menjadi 50 % ?
III.    Langkah – langkah
a.  Persiapan
1.    Melakukan observasi lapangan
2.    Sosialisasi dengan Toma dan Toga di wilayah RW VI
3.    Persiapan materi penyuluhan, pembuatan brosur dan komsumsi
4.    Menyebarkan Undangan penyuluhan
5.    Persiapan kuesioner pre test dan post test

b. Pelaksanaan
1.    Pembagian kuesioner pre test kepada masyarakat tentang bahaya merokok
2.    Mengadakan penyuluhan tentang pentingnya bahaya merokok
3.    Melakukan tanya jawab.

c.  Evaluasi
Mengevaluasi tingkat pengetahuan masyarakat mengenai kesadaran untuk tidak merokok lagi
Kapan evaluasi



IV.       Time Schedule (Perencanaan Waktu)

No
Tahap / jenis kegiatan
Minggu I
Penanggung jawab

Ket
1
2
3
4
5
6
7
I
Persiapan







Mahasiswa PBL II RW V


Pembuatan kuesioner pre test







Mahasiswa PBL II RW V

II
Pelaksanaan







Mahasiswa PBL II RW V


Penyuluhan









II
Evaluasi







Mahasiswa PBL II RW V



V.        Rencana Anggaran
Jenis
Ketersediaan


Ada
Dibutuhkan
Tenaga
Ada

Undangan
·   Kertas
Ada

Karton
Ada

Spidol
Ada

Komsumsi

Untuk 20 orang @ 
Rp. 2000
Jumlah

Rp. 40.000

VI.        Evaluasi
     Evaluasi dilakukan oleh mahasiswa PBL II di wilayah RW V Kelurahan Lette dengan methode pre test dan post test. Kapan????
    Evaluasi dilakukan dengan menggunakan post test untuk meninjau kembali peningkatan pengetahuan masyarakat, perubahan perilaku, dan sikap mengenai masalah kesehatan dengan harapan terjadi penurunan sebesar 10 %.
VII.        Kesinambungan

Rabu, 06 Juni 2012


BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar belakang
Menghadapi era globalisasi, ketenaga-kerjaan semakin diharapkan konstribusinya dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang akan tercermin dengan meningkatnya profesionalisme, kemandirian, etos kerja dan produktivitas kerja. Untuk mendukung itu semua diperlukan tenaga kerja dan lingkungan kerja yang sehat, selamat, nyaman dan menjamin peningkatan produktivitas kerja.
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah kepentingan pengusaha, pekerja dan pemerintah di seluruh dunia. instrumen yang memproteksi pekerja, perusahaan, lingkungan hidup, dan ma-syarakat sekitar dari bahaya akibat kecelakaan kerja. Perlindungan tersebut merupakan hak asasi yang wajib dipenuhi oleh perusahaan.
            Kehadiran kereta api di Indonesia ditandai dengan pencangkulan pertama pembangunan jalan KA didesa Kemijen Jum'at tanggal 17 Juni 1864 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Mr.L.A.J Baron Sloet van den Beele. Pembangunan diprakarsai oleh "Naamlooze Venootschap Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij" (NV. NISM) yang dipimpin oleh Ir.J.P de Bordes dari Kemijen menuju desa Tanggung (26 Km) dengan lebar sepur 1435 mm. Ruas jalan ini dibuka untuk angkutan umum pada Hari Sabtu, 10 Agustus 1867.
            Walaupun kereta api dikatakan cukup diminati masyarakat, bukan berarti alasan tersebut dikarenakan oleh rasa aman yang ditimbulkan. Bahkan kereta api menjadi salah satu penyebab kecelakaan bahkan kematian bagi masyarakat. Hal ini dilihat dari jumlah angka kecelakaan yang menimpa baik karyawatan PT. Kereta Api maupun penumpangnya. Data kecelakaan yang terjadi di pintu lintasan ini mempunyai frekuensi yang sangat tinggi. Dalam lima tahun terakhir (2003-2007), terjadi 134 kasus tabrakan antara kereta api dengan kendaraan bermotor lainnya, dan 31 kasus tabrakan kereta api dengan kereta api. Kecelakaan akibat anjloknya kereta dari relnya mencapai 538 kasus pada periode yang sama, atau rata-rata hampir sembilan kasus setiap bulan. Rawannya kecelakaan akibat human error dan ketidaklaikan sarana dan prasarana telah memakan korban jiwa sebanyak 257 orang meninggal dunia, 478 luka berat, dan 486 luka ringan selama lima tahun terakhir. Sedangkan pada tahun 2008 jumlahnya mengalami penurunan menjadi 7 kasus, diantaranya terdiri atas 3 kasus tabrakan dan 4 kasus anjlok.
            Untuk itu pemerintah telah mengaturnya dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor: Per05./MEN/1996 tentang berbagai aspek Hiperkes dan Keselamatan Kerja yang perlu mendapatkan perhatian, perlindungan tenaga kerja mendapatkan prioritas yang cukup tinggi dalam suatu industri, khususnya industri yang rawan cedera, pencemaran dan penyakit akibat kerja ,Selain menerbitkan peraturan dan undang-undang, sebaiknya pemerintah mengajak masyarakat untuk menerapkan keselamatan dan kesehatan kerja di area stasiun kereta api dengan berbagai metode yang menarik, guna meminimalisasi kecelakan dan gangguan-gangguan kerja baik bagi karyawan maupun pengguna stasiun lainnya.
B.     Rumusan masalah
Dari latar belakang  diatas dapat diambil suatu permasalahan yang dihadapi yakni seberapa pentingnya  peran kesehatan dan keselamatan kerja dalam memeperbaiki kinerja pada PT KAI
C.      Tujuan penyusunan
Tujuan penyususan makalah ini yaitu untuk mengetahui tentang perlunya kesehatan dan keselamatan kerja pada PT. KAI


BAB II
PEMBAHASAN

PT Kereta Api Indonesia (Persero) merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang menyelenggarakan jasa angkutan kereta api. Layanan PT KAI meliputi angkutan penumpang dan barang. PT Kereta Api Indonesia (Persero) memiliki beberapa produk inti, yaitu kereta angkutan penumpang kelas ekonomi, bisnis, dan eksekutif. PT KAI dituntut untuk menciptakan nilai tambah. Selain itu, juga diharapkan mampu menjalankan tugas dengan baik sehingga aset yang dimilikinya lebih teroptimalkan. Untuk menunjang tujuan perusahaan, perlu adanya peningkatan dan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkaitan dengan hubungan internal perusahaan
PT. Kereta  Api memiliki visi “terwujudnya kereta api sebagai pilihana utama jasa transportasi dengan focus dan keselamatan dan pelayanan ” .visi ini akan tercipta jika nilai-nilai budaya RELA yang mengandung arti  iklas bekerja ,iklas berjuang ,iklas berkorban,dan iklas belajar untuk kemajuan perusahaan .RELA juga merupakan penjabaran dari ramah,Efisien,Efektif,Lancar,dan Aman.jika konsep RELA ini mampu diadaptasi kepada para karyawan dengan baik ,karaena budaya perusahaan memiliki beberapa fungsi ,yaitu :
1.      Memeberikan batasan peran yaitu menciptakan perbedaan anatara budaya satu dengan budaya perusahaan yang lain .
2.      Memeberikan identitas bagi anggota organisasi
3.      Membangun komitmen akan sesuatu yang  lebih besar dari kepentingan diri sendiri.
Akan tetapi,yang menjadi masalah adalah masih kurangnya kesadaran menerapkan budaya RELA tersebut dalam aktivitas kerja ,dikarenakan latar belakang karyawan yang sangat heterogen .
Perkembangan perusahaan sangat tergantung  pada produktivitas karyawan yang dimilikinya .PT Kereta Api (persero) akan memiliki karyawan yang produktif ,apabila dapat  mememlihara karyawannya dengan baik pula.melalui program K3 yang baik diharapkan dapat meneurunkan tingkat kecelakaan kerja dan mampu meningkatkan semanagt kerja karyawan ,sehingga prestasi kerjanya meningkat yang tercermin dari peningkatan pelayanan kepada pelanggan dan masyarakat . Dengana danya program K3 ,konflik-konflik antara karyawan dengan perusahaan tentang jaminan keselamatan karyawan dapat diatasi,karena karyawan beranggapan bahwa perusahaan akan memikirkan keselamatan mereka saat bekerja .
Pada tahun 2002, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jacob Nuwa Wea menyebutkan bahwa kecelakaan kerja menyebabkan hilangnya 71 juta jam orang kerja, yang seharusnya dapat secara produktif digunakan untuk bekerja apabila pekerja-pekerja yang bersangkutan tidak mengalami kecelakaan dan kerugian laba sebesar 340 milyar rupiah.  Bulan Januari 2003 menyebutkan bahwa kecelakaan di tempat kerja yang tercatat di Indonesia telah meningkat dari 98,902 kasus pada tahun 2000 menjadi 104,774 kasus pada tahun 2001. Dan 11 selama paruh pertama tahun 2002 saja, telah tercatat 57,972 kecelakaan kerja.Meskipun tingginya angka kecelakaan kerja ini cukup memprihatinkan, hal ini menyiratkan adanya perbaikan yang nyata dalam pelaporan dan penyebaran informasi tentang kecelakaan kerja kepada masyarakat.
Perjalanan perusahaan layaknya roda kehidupan, kadang di bawah dan kadang
di atas. Jadi, sudah sewajarnya perusahaan mengalami permasalahan, baik
permasalahan internal maupun eksternal. Banyak rintangan yang harus dihadapai
perusaan seperti yang sedang dialami PT KAI pada pemberitaan media sebagai berikut :
1.      Ada korupsi di atas KA ”naik kereta bisnis Semarang-Jakarta cukup 10 ribu saja”. Dalam hal ini ada oknum kondektur yang melakukan praktik ”bayar di atas” kepada para penumpang gelap. Pembayaran biasanya dilakukan saat kondektur memeriksa tiket penumpang (Sumber: Suara Merdeka, 9 Februari 2010).
2.      Naik KA Laptop Melayang. Penumpang KA Argo Angggrek jurusan Jakarta-Semarang kehilangan laptop Fujitsu, hard disk eksternal, dan kamera digital. Ia menyayangkan tingkat keamanan KA eksekutif yang sangat minim (Sumber: Jawa Pos, 20 Maret 2010).
3.      542 Perlintasan KA Rawan Kecelakaan. Sebanyak 542 dari 632 perlintasan baik resmi maupun liar tidak dijaga (Sumber: Suara Merdeka, 4 Maret 2010).
Melalui permasalahan di atas, humas PT KAI memiliki peranan yang sangat penting untuk menjalin hubungan dengan karyawan (Employee Relations) dalam rangka meningkatkan dan mengembangkan SDM yang profesional. Karyawan merupakan faktor penting dalam keberlangsungan hidup organisasi. Untuk meningkatkan produktivitas kerja karyawan diperlukan adanya komunikasi antara manajemen dengan karyawan maupun antar sesama karyawan. Kurangnya komunikasi antarkaryawan dapat menimbulkan ketidakharmonisan di lingkungan kerja. Hal ini dapat dilihat melalui informasi yang tidak tepat sasaran, tidak tepat waktu, atau kurang efektif dan efisien. PT KAI dituntut untuk menciptakan nilai tambah. Selain itu, juga diharapkan mampu menjalankan tugas dengan baik sehingga aset yang dimilikinya lebih teroptimalkan. Untuk menunjang tujuan perusahaan, perlu adanya peningkatan dan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkaitan dengan hubungan internal perusahaan, selain masalah pelayanan yang termasuk hubungan eksternal perusahaan.
Peningkatan dan pengembangan SDM yang berkaitan dengan hubungan internal perusahaan menjadi tanggung jawab praktisi humas PT KAI. Fungsi dan peran humas pada PT KAI  tersebut merupakan fungsi ”manajemen”, yakni berupaya dan berencana yang didasarkan pada pernyataan kebijaksanaan yang mapan dan disetujui oleh perusahaan.
Untuk memperbaiki kelaikan dan kenyamanan layanan kereta api pemerintah sebaiknya melakukan hal-hal sebagai berikut:
1.      Melakukan peremajaan atau mengganti baru lokomotif atau komponen-komponen utama pada kereta api dengan merealisasikan kerja sama dengan General Electric (GE) tentang skema soft loan.
2.      Hanya mengoperasikan kereta yang laik jalan sesuai dengan standar kelaikan operasional. Pihak penyelenggara tidak perlu memaksakan diri mengoperasikan kereta api tidak laik jalan hanya untuk memenuhi jadwal perjalanan KA
3.      Menjatuhkan sanksi tegas terhadap oknum yang mengganggu kelancaran operasional, sesuai UU Perkeretaapian Bab XV Pasal 189- 184 tentang larangan, antara lain menindak tegas oknum yang menghilangkan, merusak, atau melakukan perbuatan yang menyebabkan rusak atau tidak berfungsinya sarana dan prasarana kereta api. Di samping itu, menindak tegas orang yang berada di atap kereta, lokomotif, kabin masinis, di gerbong kereta yang tidak diperuntukkan bagi penumpang. Menindak calo karcis, dan tak kalah pentingnya, seharusnya menindak tegas kondektur yang selalu menerima pungutan liar dari penumpang tak berkarcis
4.      Adanya perbaikan kualitas SDM sesuai dengan kecakapan yang dibutuhkan pada seluruh sektor personal terkait dengan operasional kereta api. Perbaikan ini meliputi SDM yang ada di pintu lintasan, pemeriksa rel, masinis, teknisi, kondektur, sampai pada kepala stasiun. Perbaikan SDM ini diharapkan dapat meminimalkan risiko kecelakaan yang diakibatkan oleh human error.
Kampanye Kecelakaan Nol merupakan salah satu metode untuk mengurangi potensi kecelakaan kerja yang disebabkan oleh kesalahan manusia (human error). Sehingga dengan menerapkan metode ini diharapkan  dapat memperbaiki atau bahkan meningkatkan keselamatan dan kesehatan kerja di stasiun kereta api di Indonesia.


Metode ini secara konkret dikembangkan di tempat kerja dengan menerapkan prinsip menghargai manusia, yaitu latihan antisipasi keselamatan serta menunjuk dan menyebutkan. Aktivitas menghadapi bahaya merupakan kegiatan yang dilakukan dengan bergabung dan dijadikan satu dalam aktivitas yang disebut aktivitas prediksi bahaya.


























BAB III
PENUTUP

A.     Kesimpulan
Berdasarkan uraian analisis dan pembahasan dari masalah yang telah disebutkan maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.       Keselamatan dan kesehatan kerja sangat penting diterapkan di setiap area kerja tak terkecuali di stasiun kereta api. Dimana stasiun kereta api merupakan area kerja yang memiliki resiko kecelakaan dan gangguan kerja yang tinggi.
2.       Keselamatan dan kesehatan kerja telah diatur oleh pemerintah melalui Undang-Undang No.1 / 1970 tentang Keselamatan Kerja, hal ini berarti pemerintah telah memperhatikan akan keselamatan dan kesehatan kerja bagi tiap pegawai.
3.      Dalam beberapa tahun terakhir tingkat kecelakaan kerja di stasiun kereta api mengalami peningkatan, dan setelah dianalisis hal tersebut dikarenakan kesalahan mekanis dan kesalahan manusia/ pekerjanya.
4.      Kecelakaan kerja yang terjadi karena kesalahan manusia (human error)
5.      Kampanye Kecelaakaan Nol dilakukan untuk mengurangi kesalahan manusia di tempat kerja. Dasar dan inti dari kampanye ini adalah antisipasi keselamatan dan kesehatan dengan keikut-sertaan semua orang agar tidak ada seorang pun mengalami cedera di tempat kerja.
B.     Saran
Kesehatan dan keselamatan kerja sangat penting dalam perusahan transportasi khususnya Kereta Api untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja.oleh karena itu sebaiknya setiap PT.KAI di Indonesia menerapkan K3,sehingga kecelakaan kerja bisa kurangi.

DAFTAR PUSTAKA